Akibat Kecacingan pada Seorang Anak

Infeksi Cacing Cambuk Bisa Menurunkan Fungsi Kecerdasan

Selama ini masalah kecacingan sering tidak disadari sehingga sering diabaikan dan mengakibatkan keterlambatan pengobatan. Kecacingan memang bukanlah suatu penyakit yang sangat berbahaya, namun jangan diabaikan karena sebenarnya banyak masalah yang dapat timbul yang mempengaruhi kehidupan secara keseluruhan jika tidak diatasi dengan baik.

Apa Saja Akibat Kecacingan pada Seorang Anak ?

Banyak hal yang dapat terjadi jika seorang anak menderita kecacingan, apalagi kecacingan menahun yang tidak tertangani dengan baik, antara lain:

• Penurunan fungsi kognitif (kecerdasan)
• Kurang darah
• Diare menahun dengan atau tanpa tinja berdarah
• Gatal-gatal di sekitar anus
• Radang paru-paru ( sindroma Loeffler )
• Malnutrisi ( kurang gizi )
• Biduran
• Gangguan pertumbuhan
• Radang usus buntu
• Sumbatan usus
• Nyeri perut

Beberapa kasus akibat sering terjadinya re-infeksi cacing dan bila kasusnya terjadi terlalu lama dan tidak segera diobati, dapat menyebabkan hal-hal berikut ini:

1. Akibat Cacing Gelang
Gambar berikut ini terjadi akibat terjadinya re-infeksi cacing gelang. Si penderita terus menerus terinfeksi cacing gelang sehingga jumlah cacing gelang yang ada didalam usus meningkat sehingga terjadi penyumbatan usus.

2. Akibat Cacing Cambuk
Gambar dibawah terjadi karena akibat infeksi cacing yang lama dan tidak diobati. Hal ini menyebabkan keluarnya jaringan anus

Tentu saja tidak semua akibat di atas dapat terjadi pada semua penderita kecacingan, yang paling sering ditemukan adalah kurang darah ( anemia )

Anemia merupakan suatu penyakit kurang darah, yang dapat mendatangkan berbagai macam gejala, misalnya pucat, lesu, lemas, tidak bergairah, kurang tenaga, dan kurang nafsu makan. Pada jangka panjang seorang anak yang menderita anemia akan terpengaruh kecerdasan dan prestasi belajarnya, akibat kurangnya konsentrasi dan daya ingat anak. Selain itu penurunan fungsi kecerdasan diduga juga secara langsung diakibatkan dilepaskannya zat yang disebut sitokin akibat peradangan usus dan juga zat yang dilepaskan oleh cacing. Tentu kita tidak menghendaki generasi muda kita terganggu intelegensianya dan juga pertumbuhan badannya.

Berdasarkan artikel di Kompas tanggal 12 April 2002 lalu, Data dari Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa tingkat kejadian infeksi cacing pada anak-anak SD di Indonesia mencapai 80%. Kondisi ini dapat terjadi dimana saja baik di kota maupun di desa. Mengapa angka kejadian ini cukup tinggi? Angka kejadian infeksi cacing yang tinggi di Indonesia ternyata tidak lepas dari keadaan di Indonesia yang beriklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi, serta tanah yang subur, yang merupakan lingkungan yang sangat optimal bagi kehidupan cacing. Selain itu, juga karena rendahnya standar kebersihan lingkungan dan kebersihan diri serta minimnya tingkat ketidaktahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya kecacingan. Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi juga berakibat kepada mudahnya terjadi penularan serta menyulitkan pemutusan rantai penularan yang terjadi.

Satu hal yang teramat penting namun jarang kita ketahui ternyata kecacingan dapat menimbulkan penurunan fungsi kognitif atau kecerdasan pada anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Nokes dkk.. dan dr. Che Gani Mohamad dkk. ternyata infeksi cacing cambuk (Trichuris trichiura) secara langsung mengakibatkan penurunan fungsi kecerdasan pada anak-anak. (Fungsi kognitif adalah fungsi yang mengatur kegiatan mendapat pengetahuan serta usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman.)

Secara khusus perlu diperhatikan bahwa tingkat insiden infeksi cacing cambuk dalam 5 tahun terakhir di Indonesia terus meningkat dan pada beberapa tempat telah menempati peringkat teratas. Bahkan di DKI Jakarta, menurut penelitian yang dilakukan oleh salah satu yayasan di Indonesia (dimuat dalam Surat Kabar Kompas, 23 Maret 2002), tingkat insiden infeksi cacing cambuk sudah mencapai 64.7 %.

Apa itu Cacing Cambuk ?

Sesuai dengan namanya, cacing jenis ini memiliki cambuk pada bagian depan tubuhnya, dalam ilmu kedokteran dikenal sebagai Trichuris trichiura. Dengan cambuk ini, cacing cambuk dapat menembus masuk ke dalam selaput lendir usus besar, dan menghisap darah orang yang menderita kecacingan tersebut. Cacing cambuk ini telah menjadi penyebab kecacingan nomor satu di beberapa tempat di Indonesia, terutama pada anak usia sekolah. Cacing cambuk merupakan jenis cacing yang paling sulit dibasmi dibanding jenis cacing lainnya. Jenis cacing yang paling sering ditemui adalah cacing kremi, cacing tambang dan cacing gelang.

Bagaimana Mendiagnosis Kecacingan?

Cara untuk mengetahui apakah seorang anak menderita kecacingan atau tidak sebenarnya tidaklah sulit bila cacing ditemukan keluar bersama tinja. Namun tidak pada semua kasus kecacingan, cacingnya dapat ditemukan dengan mudah. Mudah tidaknya diagnosis kecacingan ditentukan oleh berat ringan kasus kecacingan yang terjadi. Pada kasus yang ringan, seringkali gambaran infeksi cacing yang terjadi tidak jelas. Pada kasus-kasus seperti ini, tentulah diperlukan pemeriksaan tambahan dengan alat bantu mikroskop, untuk mencari telur cacing yang terdapat pada tinja penderita ataupun mencari telur cacing di sekitar anus dengan menggunakan usapan anus dengan perekat. Namun, sebenarnya sebelum melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut, kita dapat menduga terjadinya kecacingan tersebut dengan melihat hal-hal yang timbul akibat kecacingan.

Bagaimana Cara Mengobati Kecacingan?

Cara terbaik untuk mengatasi infeksi cacing adalah dengan memutus mata rantai penularan, misalnya dengan membasmi lalat dan lipas yang dapat membawa telur cacing ke makanan kita, ketersediaan sarana MCK dengan sanitasi yang baik dan mencukupi sehingga setiap orang membuang air besar di jamban dll. Tapi, masalahnya sangatlah sulit bagi kita untuk melakukan hal-hal yang ideal di atas untuk menghindari infeksi cacing, karena itu salah satu cara terbaik yang dapat kita lakukan sekarang ini adalah melindungi diri kita dan keluarga kita (terutama anak-anak kita) dari infeksi kecacingan dengan mengkonsumsi obat cacing secara teratur setiap 4 bulan sekali. Minumlah obat cacing yang mampu membasmi semua jenis cacing, terutama cacing cambuk, yang dapat menginfeksi keluarga kita.

Tips dan Saran

Kapan Anda perlu waspada anak terkena infeksi cacing ?
• Berat badan anak tidak sesuai dengan umur
• Anak menjadi tidak nafsu makan, lemah, lesu, pucat, tidak bergairah dan mudah lelah.
• Anak mengeluh sulit mengerti pelajaran di sekolah.
• Anak mengeluh gatal-gatal di sekitar anus terutama pada malam hari.

Pencegahan Kecacingan Dalam Keluarga

• Mencuci tangan sebelum makan.
• Gunakan selalu alas kaki.
• Anjurkan pengasuh anak mencuci tangan sebelum memegang anak atau menyuapi anak.
• Cuci sayur-mayur & buah-buahan mentah dengan air mengalir.
• Menutup makanan agar terhindar dari lalat.
• Hindari jajan makanan sembarangan
• Anjurkan anggota keluarga minum obat cacing setiap 3 atau 4 bulan sekali.
• Minumlah obat cacing secara rutin minimal 4 bulan sekali untuk seluruh keluarga
• Pilihlah obat cacing yang dapat membunuh semua jenis cacing, terutama yang perlu diperhatikan adalah kemampuannya membasmi cacing cambuk

sumber : http://www.anakku.com

Iklan

Buang air Yang tidak disadari ( Refleks )

Buang air Yang tidak disadari ( Refleks )

oleh; Dr. Shofa’ Al-Isaa

Sebagian orang tua sering langsung memukul anaknya sebagai bentuk pemberian pelajaran karena anaknya tersebut kencing seenaknya ataupun BAK. Ia lupa -atau tidak tahu- bahwa sebenarnya ada sejumlah penyebab yang mungkin bisa diobati dari masalah yang dialami anak/bayi tersebut. Dan sesungguhnya “memukul” anak pada kondisi demikian tidak dibenarkan dalam model pendidikan anak, dimana pendidikan anak akan menumbuhkan kepercayaan diri, ketenangan, dan keamanan ketika bersanding dengan keluarganya. Oleh karena itu, bagaimana permasalahan BAK dan BAB yang tidak disadari ini, dan bagaimanakah trik-trik solusinya? Buang Air Kecil (BAK) yang tidak disadari Ada salah satu jenis BAK yang tak disadari (refleks) yaitu BAK yang terjadi secara terus-menerus sepanjang siang-malam; ada juga BAK yang terjadi sepanjang malam saja dan ini adalah yang terbanyak daripada yang pertama.

Perilaku kencing yang terjadi terus-menerus pada bayi/anak kecil harus dikonsultasikand engan dokter, karena penyebabnya sangat banyak, seperti penurunan fungsi saluran air seni, ketidaksanggupan mengatur air seni, diabetes, dan lain-lain. Dan hal ini bisa diobati, diantaranya dengan meneliti kandungan air seni. Juga ada sebab lainnya, seperti karena ruang/kamar yang sempit. Juga ada sebab lain, seperti anatomi tubuh bayi/anak yang juga terkadang menjadi penyebab hal itu.

Adapun BAK malam hari, maka hal itu merupakan keadaan genetik, merupakan kebiasaan yang terjadi pada anak laki-laki, dan terjadi pada anak usia belajar (6 – 12 tahun) dalam jumlah 10 %. Angka ini merupakan persentase yang tergolong besar sekali, dan seorang anak BAK pada malam hari tanpa ada rasa apapun terhadap perilakunya itu. Dan keadaan ini termasuk perilaku yang tidak wajar, apabila anak menginjak usia di atas 5 tahun (pada puteri) dan di atas 6 tahun (pada laki-laki). Padahal, nasihat-nasihat yang bersifat umum terkadang bermanfaat sebelum selesainya pertemuan keluarga, atau menjelang tidur, demikian juga perilaku anak sering bangun malam untuk BAK.

Ini kadang-kadang bisa membantu anak kita berhenti dari perilaku BAK tak disadari tersebut. Demikian juga tidak banyak minum beberapa saat sebelum tidur. Ada cara lain yang juga bisa digunakan, semisal meletakkan alarm atau alat detektor yang berbunyi atau bekerja ketika ada air kencing sehingga bisa membangunkan anak.

Hal ini semua apabila dilakukan secara berulang-ulang akan membuat sang anak terbangun untuk kemudian kencing pada tempatnya. Alat pengingat/pembangun anak ini bisa menghentikan “yang tidak disadari” sampai 80%. Juga ada semacam hormon yang dimasukkan melalui hidung yang bisa mengurangi keinginan banyak minum sepanjang malam, dan hal ini akan berpengaruh pada berhentinya “kencing sepanjang malam”. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa BAK yang tidak disadari adalah keadaan yang harus diketahui oleh dokter, dan diketahui penyebab-penyebabnya untuk kemudian diberikan solusinya.

Adapun BAB pada anak yang tidak disadari, maka hal ini adalah masalah penting yang banyak dilupakan oleh keluarga. Banyak keluarga yang berusaha menutup-nutupi, dan tidak mengungkapkannya, serta menyangka bahwa itu adalah aib bagi keluarga yang harus disembunyikan. Mereka lupa bahwasannya anak mungkin sudah mengalami hal itu bertahun-tahun yang akan datang apabila tidak segera diobati dengan serius. Buang Air Besar (BAB) yang tidak disadari Sebab utama BAB yang tidak disadari adalah menahan BAB yang terlalu lama dimana sebab terbanyaknya adalah pengaruh makanan.

Maka, jenis makanan yang banyak dimakan anak kecil saat ini (makanan dan minuman yang mengandung gas, kentang) menyebabkan tidak bekerjanya usus besar, kemudian terjadi kemandegan kerja usus besar. Mandegnya kerja otot-otot usus besar inilah yang akan semakin banyak sisa makanan yang tertimbun di dalam usus besar. Dan pada akhirnya menimbulkan BAB dalam jumlah yang besar sekali disertai rasa sakit yang sangat di daerah perut, ketidakmampuan untuk membuang BAB dengan bentuk yang biasa, bahkan terkadang dalam bentuk yang tidak disadari, seperti seorang anak kecil BAB di celana dalamnya dan ia tidak merasakan perilakunya itu.

Perbuatan anak tersebut terkadang menjadikan orang tuan memukulnya karena menganggap perilaku itu disengaja, atau untuk menjadikannya jengkel. Padahal, perilaku anaknya -yang tidak diketahui sebabnya itu- sangat membutuhkan layanan dokter yang segera untuk mengobatinya secara keseluruhan. Dan terkadang, solusi yang diberikan bisa berupa layanan klinik atau dengan alat sinar untuk mengetahui volume kotoran yang ada (tertahan) di usus besar tersebut.

Obatnya bisa dengan cara membuang semua kotoran yang ada dan menumpuk lama di usus besar sampai usus terasa lega atau “plong” dan bisa bekerja kembali. Dan perlu diketahui bahwa kotoran yang keluar dan mengenai celana dalamnya itu terkadang berupa cairan dan busa (mencret) dan bukan keras sepeti batu. Sebab kotoran yang mengeras memang susah untuk dikeluarkan, kecuali jika anak tersebut diberi obat pencahar melalui anusnya.

Bekerjanya kembali otot-otot usus besar (karena pemberian obat dan makanan yang sehat) dari penyakit ini bisa memakan waktu beberapa pekan untuk bisa mengembalikan kerja usus besar setahap demi setahap karena kerasnya otot-otot usus besar. Makanan yang dikonsumsi harus yang berserat tinggi semacam roti, agar-agar, banyak minum, makan buah-buahan, sayur-mayur, sehingga usus besar bisa bekerja secara teratur. Kesimpulan Kedua penyakit yang dialami oleh anak kecil atau bayi yang menyusui tersebut di atas pada asalnya sangat membutuhkan pertolongan dokter secara cepat, baik BAK atau pun BAB selama tidak disadari oleh anak tersebut.

Dan hendaknya para orang tua tidak lagi memukul, atau menghina, atau melecehkan anaknya yang mengalami hal demikian. Sebab dengan perbuatan orang tua yang demikian akan meninggalkan bekas yang jelek bagi anak di masa depan -semoga tidak pernah terjadi.

Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq