Kebutuhan Gizi Pengaruhi Kecerdasan Anak

Penelitian membuktikan ada keterkaitan  antara tubuh pendek dan tingkat kecerdasan. Bila awal sudah tidak ada keseimbangan berat dan tinggi  badan, maka akan berpengaruh pada pembentukan otak.   Karena itu, kebutuhan gizi bayi sejak janin sampai usia  lima tahun harus terpenuhi secara baik.  Kepala Seksi Standardisasi, Subdit Gizi Mikro,  Direktorat Gizi pada Ditjen Kesehatan Masyarakat Depkes  dr Atmarita menegaskan hal tersebut di Jakarta, kemarin, di sela-sela Kongres Nasional XII dan temu ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).  Menurut Atmarita, anak yang perkembangannya sangat lambat disebabkan oleh pembentukan otak maupun tubuhnya  tidak baik akibat gizinya buruk. “Berarti hal paling  penting adalah pemenuhan gizi bayi sejak dalam kandung sampai berusia lima tahun, dan bila tidak terpenuhi,    pertumbuhan otak dan tubuhnya tidak bagus. Anak dengan  tubuh pendek, ia mengemukakan, berarti status gizi pada   masa lalunya sudah kronis,” jelas Atmarita.

Namun begitu, lanjutnya, sampai usia 18 tahun pun asupan  gizi masih penting untuk pertumbuhan fisik anak. Jadi jika tubuh seseorang kurus, Atmarita menilai, hal ini    dipengaruhi oleh keadaan gizi pada saat itu.  Bersama rekannya, dr Robert L Tiden, pakar gizi tersebut   menganalisis masalah gizi di perkotaan yang dikaitkan dengan tinggi badan anak baru masuk sekolah.  Atmarita mengatakan, 62% lebih anak di perkotaan   memiliki tinggi badan normal dari segi umur, sedangkan  anak di pedesaan hanya 49%. Maka disimpulkan bahwa anak  di perkotaan memiliki keadaan gizi lebih baik dibanding  anak di pedesaan. Meski demikian, obesitas (gemuk  sekali) pada anak di perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding anak di pedesaan.

Cuma, masalah itu mulai meningkat bukan saja di perkotaan, melainkan juga di pedesaan.  Atas dasar tersebut, Atmarita menegaskan, program  perbaikan gizi sekarang harus diubah dengan memerhatikan faktor yang terkait dengan pola hidup penduduk di  perkotaan maupun pedesaan. Sebelumnya, Menkes Achmad Sujudi dalam sambutan tertulis  yang dibacakan oleh Staf Ahli Menkes Bidang    Desentralisasi dan Kelembagaan Dini Latief merasa  prihatin karena proporsi anak pendek di Indonesia masih cukup tinggi.  “Saya yakin, para ahli gizi mengetahui situasi ini arena di tiap wilayah telah difasilitasi dengan   pemantauan status gizi,” ulasnya.  Ia menambahkan sudah banyak penelitian yang menyimpulkan pentingnya gizi untuk meningkatkan kemampuan belajar dan mengikuti pendidikan sampai tingkat tertinggi.

Menkes mengutip pula sejumlah studi di Filipina,  Jamaika, dan negara lainnya yang membuktikan, adanya   hubungan yang sangat bermakna antara tinggi badan dan   kemampuan belajar.   Bahkan, ujarnya, dihasilkan bahwa pemberian makanan   tambahan pada anak bertubuh pendek berusia 9-24 bulan akan mampu meningkatkan kemampuan belajar anak ketika   berusia 7-8 tahun.  Dibuktikan pula dari beberapa studi bidang ekonomi di    Ghana maupun Pakistan mengenai pentingnya gizi untuk mendukung pembangunan. “Malah dengan menurunkan  prevalensi anak pendek sebesar 10%, akan dapat  meningkatkan 2%-10% proporsi anak yang mendaftar ke  sekolah.”

 

Sumber:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/04/Iptek/kili22.htm

 

Satu Tanggapan

  1. Fotonya duh….. ngeri amat !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: